1. Apa Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah? 

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu; tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah.

Pendiri tarekat TQN adalah seorang sufi Syekh Besar Masjid al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama  Syekh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (W.1878 M). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah.

Syekh Ahmad Khatib memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi tarekat Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran tarekat Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkin- kan ia mendapat bai’at dari tarekat tersebut.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena kedua tarekat itu memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari’at dan menentang faham Wihdatul Wujud.

Tarekat Qadiriyah mengajarkan dzikir jahr nafi itsbat. Sedangkan tarekat Naqsabandiyah mengajarkan dzikir sirri ism dzat.

Dalam kitab Fath al-‘Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu; tarekat Qadiriyah, tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan tarekat Muwafaqah (Samaniyah).

Ajaran TQN didasarkan pada al-Qur’an, al-Hadits, dan perkataan para ‘ulama arifin dari kalangan salafus shalihin.

TQN secara substansial merupakan aktualisasi seluruh ajaran Islam.

Tujuan utama TQN sama tujuannya dengan islam itu sendiri, yaitu; untuk membawa umat manusia ke jalan yang lurus, jalan keselamatan yang bermuara pada kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (hasanah fi al-dunya dan hasanah fil al-akhirat).

  1. Ajaran Pokok Tarekat Qodiriyah Wa

Naqsabandiyah Ada empat ajaran pokok dalam TQN, yaitu kesempurnaan suluk, adab murid terhadap mursyid (etika), dzikir dan muraqah. Tetapi inti ajaran TQN adalah muroqobah artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai amalan dan riyadhah; yang paling prinsip adalah dengan cara berdzikir, sebagaimana perkataan Imam Ali; “cara terbaik dan tercepat untuk sampai kepada Allah adalah dzikrullah”. Dzikir dalam TQN dilakukan setelah melaksanakan ibadah wajibah.

Ibadah wajibah merupakan penjabaran Syari’ah. Sedangkan dzikir merupakan pengamalan aspek bathin dari syari’ah yang dalam tasawuf disebut tarekat. Syari’at dan tarekat keduanya diamalkan secara seimbang dalam upaya mencari hakikat.

Dalam TQN, kesempurnaan suluk (merambah jalan kesufian dalam rangka mendekatkan diri dengan Allah), adalah jika berada dalam 3 (tiga) dimensi keimanan, yaitu; Islam, Iman, dan Ikhsan. Ketiga term tersebut biasanya dikemas dalam satu jalan three in one yang sangat populer dengan istilah syariat, tarekat, dan hakikat.

Syariat digambarkan sebagai kapal yang berfungsi sebagai alat transportasi untuk sampai ke tujuan. Tarekat sebagai lautan yang luas dan tempat adanya mutiara. Sedangkan hakikat adalah mutiara yang dicari-cari. Mutiara yang dicari oleh para sufi adalah ma”rifat kepada Allah. Orang tidak akan mendapatkan mutiara tanpa menggunakan kapal. 

Dalam TQN diajarkan bahwa tarekat diamalkan justru dalam rangka menguatkan syari”at. Karena bertarekat dengan mengabaikan syariat ibarat bermain di luar sistem, sehingga tidak akan dapat mendapatkan sesuatu kecuali kesia-siaan.

Bagi TQN adab kepada mursyid (syekh) merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat. Adab atau etika murid dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi Muhammad Saw. Hal ini diyakini karena muasyarah (pergaulan) antara murid dengan mursyid melestarikan sunnah (tradisi) yang dilakukan pada masa nabi. Kedudukan murid menempati peran sahabat sedang kedudukan mursyid menempati peran Nabi Saw dalam hal irsyad (bimbingan) dan ta’lim (pengajaran).

TON adalah termasuk tarekat dzikir. Sehingga dzikir menjadi ciri khas yang mesti ada dalam tarekat. Dalam suatu tarekat dzikir dilakukan secara terus-menerus (istiqamah). Hal ini dimaksudkan sebagai suatu latihan psikologis (riyadah al-nafs) agar seseorang dapat mengingat Allah di setiap waktu dan kesempatan.

Dalam TQN terdapat 2 (dua) jenis dzikir. Pertama, dzikir nafi isbat, yaitu; dzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat “lailahaillallah”.

Dzikir ini merupakan inti ajaran tarekat Qadiriyah yang dilafadzkan secara jahr(dengan suara keras).

-Dzikir nafi isbat pertama kall dibai”atkan kepada Ali bin Abi Thalib pada malam hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke kota Yasrib (Madinah) di saat Ali menggantikan posisi Nabi (menempati tempat tidur dan memakai selimut Nabi).

Dzikir ismu dzat, yaitu dzikir kepada Allah dengan menyebut kalimat ÔÇťAllah” secara sirr atau khafi (dalam hati). Dzikir ini juga disebut dengan dzikir latifah dan merupakan ciri khas dalam tarekat Naqsyabandiyah.

Dzikir ismu dzat dibaiatkan pertama kali oleh Nabi Saw kepada Abu Bakar ash-Shiddig, ketika sedang menemani Nabi di Gua Tsur.

Mengapa dzikir begitu prinsip dalam TQN? Jawabannya, banyak ayat al-Qur’an yang menguatkan kedudukan dzikir; bahwa dzikir merupakan perkara yang paling besar. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya shalat harus bisa mencegah dari perbuatan fakhsyah dan munkar, dan sesungguhnya dzikir kepada Allah Swt lebih besar dan Allah Swt amat mengetahui apa yang kamu perbuat” (QS. AI Ankabut: 45).