Menurut Abu Bakar, tujuan tarekat Talah mempertebal iman dalam hati pengikut-pengikutnya, sehingga tidak ada yang lebih indah dan dicintai selain Allah Swt dan kecintaan itu melupakan dirinya dan dunia ini seluruhnya. Dalam perjalanan kepada tujuan itu, manusia harus ikhlas, bersih segala amal dan niatnya, muraqabah, merasa diri selalu diawasi Allah dalam segala gerak-geriknya, muhasabah, memperhitungkan laba rugi amalnya, dengan akibat selalu dapat menambah kebajikan, tajarrud, melepaskan segala ikatan apapun jua yang akan merintangi dirinya menuju jalan itu. Agar terbentuk pribadi tersebut dapat diisi jiwa dengan Isyq, rindu yang tidak terbatas terhadap Allah, sehingga kecintaan, kepada Allah melebihi dirinya dan segala alam yang ada di sekitarnya.

Menurut Nurcholis Madjid, bertarekat berarti kita menempuh jalan yang benar secara mantap dan konsisten. Orang yang demikian dijanjikan Tuhan akan memperoleh karunia hidup bahagia yang tiada terkira. Hidup bahagia itu ialah hidup sejati, yang dalam ayat suci diumpamakan dengan air yang melimpah ruah. Dalam literatur kesufian, air karunia illahi itu disebut “air kehidupan”. Inilah yang secara simbolik dicari oleh para pengamal tarekat, yang wujud sebenarnya tidak lain ialah “pertemuan” dengan tuhan dengan ridla-Nya.

Menurut Solikhin, tujuan tarekat adalah membersihkan jiwa dan menjaga hawa nafsu untuk melepaskan diri dari pelbagai bentuk ujub, takabur, riya’, hubbud dunya (cinta dunia), dan sebagainya. Tawakal, rendah hati atau tawadhu’, ridha, mendapat makrifat dari Allah, juga menjadi tujuan tarekat.

Menurut Syaikh Sholeh Basalamah, tujuan tarekat pada hakikatnya ialah mengajak manusia supaya bisa memanfaatkan waktu untuk selalu berdzikir kepada Allah Swt.

Menurut Khalil. A. Bamar bahwa tujuan bertarekat adalah mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah, agar bisa mencapai hal tersebut maka penganutnya harus mempelajari kesalahan dan dosa-dosa yang diperbuatnya, kemudian melakukan perbaikan yang selanjutnya minta ampun kepada Allah.

Menurut Asy-Syekh Muhammad Amin al-Kurdy pentingnya seseorang masuk ke dalam tarekat,  agar bisa memperoleh kesempurnaan dalam beribadah kepada Tuhannya.

Menurutnya, minimal ada tiga tujuan bagi seseorang yang memasuki dunia tarekat untuk menyempurnakan ibadah. Pertama, supaya “terbuka” terhadap sesuatu yang diimaninya yakni dzat Allah Swt, baik mengenai sifat-sifat, keagungan maupun kesempurnaan-Nya, sehingga dapat  pendekatkan diri kepada-Nya secara lebih dekat lagi, serta untuk mencapai hakikat dan kesem-purnaan kenabian dan para sahabatnya. Kedua, untuk mem-bersihkan jiwa dari sifat-sifat dan akhlak yang keji, kemudian menghiasinya dengan akhlak yang terpuji dan sifat-sifat yang diridhai (Allah) dan berpegang pada para pendahulu (shalihin) yang telah memiliki sifat-sifat itu. Ketiga, untuk menyempurnakan amal-amal syariat, yakni memudahkan beramal shalln dan berbuat kebajikan tanpa menemukan kesulitan dan kesusahan dalam melaksanakannya.

Kesimpulannya, tujuan bertarekat adalah mencari kebenaran, maka cara melintasi jalan itu juga harus dengan cara yang benar. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin yakni sikap yang benar. Selain itu, tujuan bertarekat juga untuk: (1) pencucian jiwa (tazkiah al-nafs) melalui amalan dalam tarekat (dzikir); (2). pendekatan diri kepada Allah (taqaarub lla Allah) melalui amalan yang mengikuti ulama atau wasilah (tawasul); (3). Menjalankan amalan wirid yang di ijasahkan oleh guru (mursyid); dan (4). menata batin dan meluruskan langkah batiniah, sehingga kedudukan dan kiprah dalam masyarakat senantiasa berakhlakul karimah.