Kyai Haji Achmad Chalwani (lahir di Purworejo, 19 Desember 1954; umur 65 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo dan mursyid dari Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Ia pernah duduk sebagai anggota DPD mewakili provinsi Jawa Tengah.

Chalwani adalah putera ketiga dari pasangan KH. Muhammad Nawawi dan Nyai Saodah. KH. Muhammad Nawawi adalah tokoh di balik berdirinya Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyah.

Sebagaimana ayahandanya, Chalwani dibesarkan dan dididik di dalam lingkungan pesantren di bawah didikan dan pengawasan dari ayahnya. Menginjak masa remaja ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, disamping itu ia juga mendapatkan bekal pendidikan formal. Pesantren-pesantren tersebut antara lain: Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo, Mojoroto, Kediri. Sedangkan pendidikan formalnya dimulai dari SDN Gintungan (1968), PGA Ma’arif Berjan (1971), MTs Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, Mojoroto, Kediri (1973), MA Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, Mojoroto, Kediri (1976), STAI Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta (2001).

Sejak sepeninggal KH. Muhammad Nawawi pada tahun 1982, kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan olehnya. Dalam periode inilah Pondok Pesantren An-Nawawi berkembang, terbukti dengan semakin banyaknya santri yang datang untuk menuntut ilmu yang berasal dari berbagai daerah, baik dari dalam pulau Jawa maupun luar Jawa dan bahkan ada yang datang dari luar negeri, seperti Malaysia.

Sebagai pemegang pimpinan tinggi di pondok pesantren, KH. Achmad Chalwani menyadari betul bahwa tujuan luhur dan mulia yang dirintis oleh para pendahulunya, merupakan amanat yang wajib dijaga dan dikembangkan selaras dengan perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan ciri khas pesantren salafiyahnya. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan dan peranan pondok pesantren pada masa kini dan yang akan datang, mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi peningkatan martabat hidup masyarakat disekitarnya. Berbagai langkah dan strategi untuk mengembangkan pondok pesantren terus dilakukannya, seperti mengirim da’i-da’i muda diberbagai daerah terbelakang, melaksanakan berbagai kegiatan majlis ta’lim dan selapanan. Peristiwa penting yang terjadi pada periode ini adalah diubahnya nama Pondok Pesantren Roudlotut Thullab menjadi Pondok Pesantren An-Nawawi pada tanggal 6 Januari 1996 M, yang bertepatan dengan tanggal 16 Syakban 1416 H.

Ia menikah dengan Siti Sa’adah, puteri dari KH. Ahmad Abdul Haq Dalhar (pengasuh Ponpes Darussalam di Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang) dan dikaruniai tiga orang anak: Ashfa Khoirunnisa’, Muhammad Khoirul Fata dan Muhammad Saliq Iqtafa.

Karier

  • Ketua Dewan Pembina, Yayasan Pengembangan Pondok Pesantren Roudlotut Thullab Berjan, Gebang, Purworejo
  • Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi
  • Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi Purworejo
  • Rois Idaroh Syu’biyyah Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah untuk Kabupaten Purworejo
  • Mudir Tsani Idaroh Wustho Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah untuk provinsi Jawa Tengah
  • Syuriyah PWNU Jawa Tengah, masa jabatan 2008-2013
  • Anggota Dewan Penasihat MUI Provinsi Jawa Tengah, masa jabatan 2011-2016
  • Penasihat GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) di Kabupaten Purworejo
  • Ketua II PP Induk Koperasi Pondok Pesantren (INKOPONTREN)
  • Penasihat PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama
  • Penasihat PP Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama
  • Penasihat Paguyuban Warga Jawa Tengah di Jakarta
  • Ketua Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) daerah DIY, Kedu dan Banyumas
  • Anggota DPD mewakili Provinsi Jawa Tengah, masa jabatan 2004-2009

Sumber